HEADLINE: Parpol Koalisi Jokowi Minta Jatah Menteri, Bagaimana Respons Istana? - Ide Nasional

Breaking

Friday, July 5, 2019

HEADLINE: Parpol Koalisi Jokowi Minta Jatah Menteri, Bagaimana Respons Istana?

Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK memiliki rumus tersendiri terkait susunan menteri kabinet Jokowi jilid II. Menurut dia, susunan kabinet kerja Jokowi-Ma’ruf Amin periode 2019-2024 akan diisi oleh banyak calon menteri dari partai politik.

Mengenai partai mana yang mendapat jatah menteri, dia menilai tergantung dari hasil pemilihan legislatif 2019. PDIP dianggapnya berpotensi paling banyak mendapatkan jatah menteri.

“Jadi partai yang paling besar katakanlah PDIP seperti sekarang, maka menterinya paling banyak di kabinet, otomatis,” kata JK di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa 2 Juli 2019.

Wapres Jusuf Kalla menjawab pertanyaan dari kaum muda millenial di komunitas Kamis Kerja, Jakarta, Kamis (21/3). Dialog tersebut untuk mengenal sosok Jokowi dari mata seorang JK yang telah mendampinginya 5 tahun terakhir. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

JK menilai, wajar kabinet gabungan diisi oleh calon menteri dari partai politik dan profesional. Menurut dia, partai politik juga pasti adalah seorang yang profesional. Sehingga kualitasnya tidak kalah dengan menteri dari kalangan profesional.

“Itu juga tidak berarti tidak profesional. Banyak juga menteri dari partai juga profesional,” ujar JK.

Sementara itu, Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin menilai, pembagian kursi menteri akan disesuaikan dengan partai koalisi yang ada.

“Ada sekian partai koalisi. Tentu jumlahnya disesuaikan,” ucap Ma’ruf di kediamannya, Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Dia menambahkan, sampai kini pihaknya belum membahas masalah kursi kabinet. Sehingga untuk nama belum ada yang muncul.

“Belum, belum, masing-masing berapa, apalagi orangnya. Kan belum dibahas,” ujar Ma’ruf.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut, sejak awal pembentukan kabinetnya, tidak ada istilah jatah-jatahan kursi menteri untuk partai politik pendukungnya.

“Dalam politik bukan masalah, tanya saja ke partai-partai apa pernah kita bicara masalah menteri? Atau menteri apa? Enggak pernah,” kata Presiden Jokowi dalam wawancara khusus dengan Tim LKBN Antara di Istana Merdeka Jakarta, Rabu 12 Juni 2019.

Menurut Jokowi, semua partai pendukungnya sudah mafhum bahwa penyusunan kabinet merupakan hak prerogatif presiden.

Namun ia menjelaskan bahwa kemudian wajar jika ada partai-partai tertentu dengan persentase perolehan suara yang besar mendapatkan porsi kursi menteri yang lebih banyak.

“Kalau beliau-beliau tahu itu hak prerogatif presiden, ya logis persentase gede masa diberi menteri satu, yang persentase kecil diberi menteri empat, ya enggak gitu, bukan penjatahan, normal saja,” katanya.

Hal itu dianggapnya bukan sebagai penjatahan. Menurut dia, ini merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam dunia politik dan pemerintahan. Dengan cara itu, Jokowi mengaku tetap bisa mempertahankan kekompakan koalisi pendukungnya selama ini.

“Nyatanya lima tahun kemarin tidak ada masalah, semua dengan komunikasi, baik dengan ketua umum partai, dengan sekjen-sekjen, semua bisa dibicarakan saya kira dari pengalaman tidak ada masalah,” katanya.

Sikap PDIP

Sementara itu, Wasekjen PDIP Eriko Sotarduga memastikan, partainya tidak pernah meminta jatah kursi menteri. Namun begitu, PDIP akan memberikan kader terbaik jika Jokowi meminta pihaknya untuk mengisi posisi menteri.

“Tidak harus namanya meminta. Pasti akan diberikan yang terbaik. Kenapa? Karena memang beliau juga datang dari PDI Perjuangan,” ungkap Wasekjen PDIP Eriko Sotarduga, di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis 4 Juli 2019

Wakil Sekjen DPP PDIP Eriko Sotarduga dalam diskusi publik bertema,

Soal menteri ini, imbuh dia, PDIP memberikan wewenang penuh kepada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang akan berdiskusi dengan Presiden Jokowi.

“Biarlah nanti dua tokoh memutuskan siapa atau berapa orang. Jangan kita lah,” jelas Eriko.

Sementara terkait patokan jatah menteri parpol koalisi, PDIP menyerahkannya kepada Presiden Jokowi. Susunan kursi menteri merupakan ranahnya presiden.

“Sebagai partai terbesar ya dengan kursi terbesar di DPR kami menghormati konstitusi. Kalau itu merupakan kewenangan presiden kita serahkan pada presiden,” kata Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Hendrawan menegaskan, sebagai partai besar ia ingin memberikan contoh yang baik dan sesuai konstitusi. Salah satunya dengan tidak asal klaim jatah kursi menteri.

“Dan sebagai partai terbesar kami juga harus memberikan tuntunan, memberikan teladan ya tidak klaim-klaim seperti itu,” ungkapnya.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (tengah) bersama bakal calon wakil presiden Ma'ruf Amin (kiri) dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kanan) saat Rakornas PDIP di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Sabtu (1/9). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Soal jatah kursi menteri, Hendrawan masih menutup rapat berapa banyak yang diinginkan partainya. Namun, lanjutnya, penentuan kursi kabinet harus ada azas kepatutan.

“Tidak. Kami tidak, itu ada azas kepatutan, you lihat aja, kalau yang lain kursinya sepertiga dari kami terus minta 10, terus kami minta berapa?,” ucapnya.

Hendrawan juga tidak ambil pusing dengan partai koalisi yang sering menyebut jumlah kursi menteri yang diinginkan. Bagi dia, ucapan itu hanya manuver politik.

“Ini kan hanya manuver-manuver dan ya pemberian isyarat sinyal. Presiden itu menghadapi isyarat-isyarat seperti ini, bisa ketua umum partai juga. Kadang-kadang menyampaikan itu hanya untuk mengisi berita media,” tandasnya.


Artikel yang berjudul “HEADLINE: Parpol Koalisi Jokowi Minta Jatah Menteri, Bagaimana Respons Istana?” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment