28 Mei 2005: Ledakan 2 Bom di Pasar Tentena Tewaskan Puluhan Orang - Ide Nasional

Breaking

Monday, May 27, 2019

28 Mei 2005: Ledakan 2 Bom di Pasar Tentena Tewaskan Puluhan Orang

Ledakan dua bom di Pasar Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah memunculkan beragam dugaan. Sejumlah kalangan menilai teror bom itu dilancarkan pemain lama yang ingin mengusik kedamaian di Poso. Versi lain menyebut bom Tentena sebagai upaya untuk mengelabui penyelidikan atas penyelewengan dana pengungsi Poso.

Selain itu, ledakan tersebut juga dikaitkan dengan konflik sektarian antara Muslim dan Kristen di Poso. Konflik itu menewaskan setidaknya 577 orang dan menyebabkan 86.000 lainnya mengungsi dalam periode tiga tahun sebelum gencatan senjata yang disponsori pemerintah dan disepakati pada Desember 2001.

Mereka yang dihukum karena kejahatan yang berkaitan dengan konflik menyebut bahwa ini adalah upaya balas dendam atas kekejaman sebelumnya yang dilakukan terhadap komunitas Muslim di Poso. Apalagi, pengeboman ini dilakukan tepat pada hari peringatan lima tahun pembantaian 165 orang Muslim di desa Sintuwulemba, Kabupaten Poso.

Apa pun itu, polisi terus bekerja. Sepekan setelah kejadian atau Juni 2005, usaha keras polisi untuk mengungkap pelaku dan pemilik bom jahanam itu menemui titik terang. Sebanyak 14 tersangka ditahan. Polisi juga memburu empat pelaku lain yang diyakini sebagai eksekutor bom.

Berawal dari penangkapan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Poso Hasman, polisi segera menyisir Kompleks Lapas Poso. Bagaimana tidak, di dalam mobil Hasman, polisi menemukan senjata api jenis FN, potongan pipa, dan parang. Ia juga tengah membawa keluar empat tahanan tanpa izin Pengadilan Negeri Poso.

Di bengkel kerja Lapas Poso, tim Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah Sulteng dan Markas Besar Polri menemukan barang bukti yang mengejutkan. Sejumlah material pembuat bom ditemukan di tempat tersebut. Penemuan ini mengindikasikan bahwa bom Tentena dirakit di bengkel ini. Sumber kepolisian menyebutkan bahwa casing bom yang berbentuk tabung juga dibuat di tempat itu.

Dugaan ini diperkuat hasil uji Labfor yang menemukan kesamaan jenis bahan peledak antara bom di Pasar Tentena dengan material bahan baku yang ditemukan di bengkel kerja Lapas Poso. Jenis bahan peledak itu adalah dinitrotoluene (DNT), turunan trinitrotoluena (TNT) yang lazim digunakan dalam sebuah perakitan bom. Belakangan, bahan yang sama ditemukan di tubuh Hasman.

Namun, penangkapan Hasman memunculkan dugaan lain. Bom di Pasar Tentena dibuat untuk mengalihkan perhatian publik terhadap kasus korupsi dana kemanusiaan senilai Rp 2 miliar yang melibatkan Abdul Kadir. Kecurigaan ini dikuatkan pada fakta bahwa Kadir yang berstatus tahanan Kejaksaan Negeri Poso ditangkap saat berada satu mobil dengan Hasman beberapa saat setelah bom meledak.

Namun, keluarga Abdul Kadir membantah dugaan itu. Alasannya, Kadir tengah berada di Palu saat bom meledak. Maka, polisi pun kembali mengalihkan perhatian kasus ini pada terorisme.

Fakta baru muncul, bahwa sebelum pengeboman di Pasar Tentena, pada bulan Januari 2005, pihak berwenang menemukan 60 bom rakitan di sebuah rumah kosong di Kota Poso dan pada awal Mei, polisi telah menangkap tiga orang karena diduga terlibat dalam serangan lain dengan menggunakan alat serupa.

Dari upaya tak kenal lelah, polisi menangkap 10 tersangka lainnya pada awal 2007. Atas keterlibatan mereka, persidangan pun digelar sejak akhir November 2007 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Salah seorang yang dijadikan terdakwa adalah Eko Budi Wardoyo alias Sukani alias Munsif yang diduga membiayai serangan tersebut. Diketahui pula dia yang membagi empat eksekutor peledakan menjadi dua kelompok untuk menanam perangkat bom di dalam daging dan bagian produksi di Pasar Tentena yang mayoritas dihuni warga non-muslim itu.

Dalam persidangan terungkap, Ardin Djanatu dan Amril Ngiode membawa dan menanam satu bom. Sedangkan rekan mereka Syaiful Anam, menanam bom lain di dekatnya di depan pasar dan penghitung waktu untuk kedua perangkat bom diatur meledak dengan jeda waktu 15 menit.

Terdakwa lainnya, Ngiode menjelaskan bahwa bom tersebut dibuat dari TNT dan belerang, dengan sejumlah besar besi ditambahkan untuk menciptakan pecahan peluru. Satu senjata telah disembunyikan di dalam kotak kardus dan dikirim ke pasar dengan membawa kantong plastik hitam yang disamarkan dengan sayuran.

Ngiode juga menjelaskan bahwa target mereka pada awalnya adalah sebuah sekolah Katolik yang bersebelahan dengan Pasar Tentena, namun selama survei mereka, para tersangka teroris mendapati bahwa pasar lebih ramai dan padat.

Pada akhir 2007, Anam dan Djanatu dijatuhi hukuman 18 tahun dan 14 tahun penjara karena menanam perangkat bom di Tentena. Sementara Ngiode menerima hukuman 15 tahun karena merakit bom dan tuduhan lainnya karena memiliki senjata ilegal dan juga melakukan serangan. Sementara, terduga perancang utama bom tersebut yang diidentifikasi sebagai Taufik Buraga oleh Ngiode belum ditemukan.

Sementara dalam persidangan 4 November 2010, ulama garis keras Eko Budi Wardoyo divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena memberikan dana kepada para pelaku untuk mengumpulkan dua bom dan diidentifikasi sebagai penasihat utama di balik serangan tersebut.

 


Artikel yang berjudul “28 Mei 2005: Ledakan 2 Bom di Pasar Tentena Tewaskan Puluhan Orang” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment