Membangun Mitos: Korupsi, Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa Indonesia - Ide Nasional

Breaking

Monday, April 15, 2019

Membangun Mitos: Korupsi, Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa Indonesia

Menurut Heddy Shri Ahimsa Putra ‘Tidak ada masyarakat tanpa mitos, melalui mitoslah suatu suku bangsa membangun keteraturan pada tataran kognitif mengenai dunianya dan mengenai tempat mereka dalam dunia tersebut’ (Rontoknya Mitos Karakter Bangsa Indonesia).

Achmad Fedyani Saifudin (2011) berpendapat bahwa hingga tahun 1970an bangsa Indonesia masih sering membanggakan eksistensi pranata dan nilai-nilai gotong royong itu sebagai bagian dari wujud kesatuan dan persatuan, solidaritas, kuatnya kerjasama dan tolong-menolong dalam masyarakat.

Inilah mitos positif yang dibangun oleh masyarakat Indonesia sebagai kebudayaan yang menghasilkan kepribadian yang santun. Akan tetapi di sisi lain, timbul beberapa faktor penyebab tindak korupsi seperti yang dikutip oleh (Reisthya Nida D.W, 2011) dari pendapat Muh. Mustofa (2010), yakni pertama, adanya akar budaya yang menanamkan istilah korupsi.

Kedua, pemikiran bahwa korupsi itu wajar. Korupsi dalam pengertian tradisional dianggap wajar dan tidak dimasalahkan karena semua hak dimonopoli secara sepihak oleh penguasa. Sehingga tidak ada kekuatan kontrol secara eksternal. Ketiga, unsur budaya konsumerisme. Adanya sifat serakah yang tidak pernah puas dan tidak pernah cukup.

Keempat, di luar kesadaran atau pengaruh dari orang lain. Kelima, lemahnya lembaga hukum. Keenam, lemahnya mental dan pemikiran rakyat indonesia. Sehingga faktor inilah yang akhirnya menjadi sebuah mitos negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia itu sendiri. Sehingga timbullah kebobrokan atas kepribadian bangsa Indonesia.

Achmad Fedyani Saifudin (2011), menyimpulkan bahwa masa taransisional terjadi karena proses seleksi, adaptasi, akomodasi, penolakan dan peneriamaan akan membentuk “kebudayaan baru”. Apabila “budaya baru” berkembang menjadi dominan maka sejumlah pengetahuan dan keyakinan baru akan menguat bahkan bisa menguasai pikiran masyarakat Indonesia.

Reisthya Nida D.W (2011) mempertegas bahwa warisan budaya korupsi harus diakhiri dengan pendidikan dan pendidikan akan efektif manakala ditanamkan sedini mungkin. Meskipun bukan berarti terlambat jika mulai diterapkan bagi seseorang yang telah lama mengenyam pendidikan. Tindakan inilah yang mampu mengembalikan citra baik bagi kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia.

opini

doriapril

doriapril


Artikel yang berjudul “Membangun Mitos: Korupsi, Kebudayaan dan Kepribadian Bangsa Indonesia” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment