Lika-liku Pemungutan Suara Pemilu 2019 di Luar Negeri - Ide Nasional

Breaking

Sunday, April 14, 2019

Lika-liku Pemungutan Suara Pemilu 2019 di Luar Negeri

Ide Nasional, Jakarta – Pemungutan suara Pemilu 2019 di luar negeri dilakukan lebih awal daripada di Tanah Air. Sejak 8 April hingga Minggu 14 April ini, warga negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di luar negeri menggunakan hak suaranya.

Tentu, ada lika-liku dalam pemungutan suara tersebut. Sebut saja di Sydney, Australia. Ratusan WNI geger karena tak bisa menggunakan hak suaranya pada Pemilu 2019.

Alasannya, tempat pemungutan suara (TPS) tutup. Mereka pun protes dengan keputusan penyelenggara pemilu luar negeri (PPLN) di Sydney tersebut.

Anggota Sekretariat PPLN Sydney, Hermanus membenarkan hal itu. Dia menjelaskan, WNI yang tidak bisa menggunakan hak suaranya itu merupakan pemilih khusus yang tidak masuk DPT.

WNI yang masuk dapat daftar pemilih khusus memang baru bisa memilih satu jam sebelum waktu pemungutan suara berakhir.

“Sesuai aturan, pemungutan suara berlangsung pukul 08.00 hingga 18.00. Sementara pemilih yang masuk dalam DPT khusus memilih mulai pukul 17.00. Penutupan ini dengan mempertimbangkan penggunaan gedung dan sesuai dengan aturan yang ditentukan KPU,” ujar Hermanus ketika dihubungi Ide Nasional, Minggu (14/4/2019).

Menurut dia, seluruh WNI di Sydney yang masuk dalam DPT sudah terlayani hingga pukul 17.00. Setelah jam itulah, antrean mulai membludak.

“Sampai pukul 17.00 WNI yang masuk DPT sudah terlayani. Setelah pukul itu, barulah antean membludak. Sebenarnya, ketika sudah pukul 18.00 tapi orangnya sudah masuk gedung, tetap dilayani,” tutur Hermanus.

Dia mengatakan, tidak bisa menggunakan hak merupakan konsekuensi dari pemilih khusus. Jikapun TPS masih buka, belum tentu mereka bisa memilih. Bisa jadi surat suara habis.

“Setiap TPSLN mendapat 2 persen surat suara cadangan. Jadi kalaupun bisa masuk TPS, belum tentu dapat menggunakan hak suara,” kata Hermanus.

Warga memasukkan jarinya ke dalam botol berisi tinta saat simulasi pemungutan dan pencoblosan surat suara Pemilu 2019 di Taman Suropati, Jakarta, Rabu (10/4). Simulasi dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dan kekurangan saat pencoblosan pemilu pada 17 April nanti. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menurut dia, pihaknya sudah mendorong WNI di Sydney untuk mendaftarkan diri dan mengurus keperluan Pemilu 2019 agar masuk dalam DPT. Namun, tidak semua WNI mematuhinya.

“Sejak awal sampai menjelang penetapan DPT, kami terus mendorong. Entah karena apa, mungkin ada kendala sehingga tidak bisa mendaftar atau melapor. Namun, di luar kejadian ini, banyak kok WNI yang mengapresiasi,” kata Hermanus.

Senada dengan yang diungkapkan Hermanus, pemungutan suara di negara lainnya berlangsung aman dan tertib.

Antusiasme masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi terlihat di Gedung KBRI London. Antrean warga mengular hingga 1 km.

“Saya bersyukur pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 2019 di Inggris berlangsung tertib. Saya juga senang melihat antusiasme warga Indonesia di Inggris dalam menjalankan hak konstitusinya,” ujar Duta Besar RI untuk Inggris dan Irlandia, Rizal Sukma di London, Sabtu 13 April 2019 seperti dilansir Antara.

Membeludaknya antrean pemilih di TPS Town Hall, Sydney pada hari pemungutan suara, Sabtu 13 April 2019 (Twitter / @juanvittoriou)

Rizal mengapresiasi kerja keras Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) sejak mulai persiapan hingga pelaksanaan pemungutan suara pemilu, sehingga dapat berjalan lancar.

Di dalam Gedung KBRI London ada tiga Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) Pemilu 2019 yang dibangun. Tiga TPSLN ini menampung sekitar 1.850 pemilih.

Antuasisme warga menyambut Pemilu 2019 juga terlihat di KBRI Brussels. Menurut data KBRI di Brussels, WNI di Belgia yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 1.745. Sementara, 10 orang lainnya masuk Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). Mereka menyalurkan hak suaranya pada Sabtu, 13 April 2019.

Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Yuri Thamrin, mengatakan persiapan untuk pemilu di Brussels dan Luksemburg berjalan cukup baik. Hal ini dikarenakan pihak KBRI telah berkoordinasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Kepolisian di Brussel dan otoritas setempat untuk pengamanan.

“Turis asal Indonesia yang sedang ada di Belgia juga bisa mencoblos di Brussels. Tapi mereka baru bisa mencoblos setelah pukul 17.00 sore,” kata Yuri di Kantor KBRI di Brussels, Kamis 11 Maret.

Menurut Yuri, antusiasme WNI di Belgia untuk menyalurkan suara diprediksi besar. Terlihat dari antusias mereka mencari informasi soal pemilu melalui media.

“Kalau soal pilihannya condong yang mana saya tidak tahu. Yang jelas saya akan memilih,” imbuh Yuri.

Begitupula di Kroasia. Sebanyak 90,24 persen surat suara telah digunakan oleh warga negara Indonesia (WNI) yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) maupun Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), di Kroasia untuk menyuarakan hak pilihnya.

Berdasar siaran tertulis KBRI Zagreb, seperti dilansir Antara, mendung yang menggelayuti Kota Zagreb sejak Sabtu, 13 April 2019 pagi tidak menyurutkan langkah kaki WNI yang berada di Kroasia untuk menggunakan hak pilihnya pada pesta demokrasi ini.

Tepat pukul 09.00 pagi (waktu setempat) KPPSLN memulai kegiatan dengan mengucap janji dan menunjukkan berbagai kelengkapan pemilu. Para KPPSLN memakai pakaian tradisional daerah untuk merepresentasikan keanekaragaman Indonesia.

Duta Besar RI untuk Kroasia Sjachroedin ZP mendapat nomor urut pemilih pertama untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019 di TPS KBRI Zagreb, dan kemudian diikuti WNI lainnya.

Usai menggunakan hak pilih, seluruh warga Indonesia yang hadir pun menikmati aneka hidangan khas Indonesia, seperti nasi uduk, siomay, pempek, dan bakso untuk menghangatkan badan di tengah suhu sembilan derajat celsius dan angin sepoi-sepoi.

 


Artikel yang berjudul “Lika-liku Pemungutan Suara Pemilu 2019 di Luar Negeri” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment