Janji Manis Prabowo Malah Bisa Bikin APBN Bocor Ratusan Triliun - Ide Nasional

Breaking

Sunday, April 14, 2019

Janji Manis Prabowo Malah Bisa Bikin APBN Bocor Ratusan Triliun

Pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjanjikan penurunan tarif listrik sebesar 20 persen dalam 100 hari pertama. Janji manis ini malah bisa bikin APBN bocor ratusan triliun. Kok bisa?

Ignasius Jonan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, penurunan tarif dasar listrik sebesar 20 persen mungkin-mungkin saja. Masalahnya, justru bakal banyak uang APBN yang bocor.

“Menurut saya bisa, tapi itu harus tingkatkan subsidi. Itu cara yang paling cepat,” kata Jonan.

Subsidi yang harus disiapkan untuk menurunkan tarif listrik mencapai Rp100 triliun hingga Rp120 triliun. Tentu saja, bisa-bisa subsidi ini tidak tepat sasaran. Artinya, orang yang tak semestinya mendapatkan subsidi listrik justru malah menikmati. Apakah ini bukan sebuah kebocoran?

“Kalau mau turun 20% ya subsidi Rp 100 triliun sampai Rp 120 triliun. Kalau mau ditempuh itu pasti bisa. Tinggal DPR setuju apa tidak?” papar Ignasius.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ekonom INDEF Berly Martawardaya. Ia mengatakan, untuk jangka pendek, agak sulit harga listrik diturunkan, kecuali harga energi (migas dan batu bara) turun drastis. “Atau ada penambahan subsidi energi di APBNP 2019,” tandas Berly.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), menilai penurunan tarif listrik selain membebani APBN lantaran subsidi melonjak juga bakal membebani keuangan PLN.

“Secara ekonomi peluang untuk menurunkan tarif listrik sangat kecil karena dengan tarif sekarang pun, margin PLN sangat rendah hanya 2-4 persen, jauh dibandingkan margin ideal 10-12 persen,” ujar Fabby, seperti dikutip dari CNBC Indonesia saat dihubungi, Senin (8/4/2019).

Tarif listrik sangat dipengaruhi kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Saat ini, tarif dasar listrik sebesar Rp1.457 per kWh. Bila dikonversi ke dolar AS sebesar US$10 per kWh.

Sebenarnya, dengan menggunakan konversi ke dolar AS, tarif dasar listrik sudah turun sebesar 10 persen dibandingkan tarif 2017. Pada 2017, tarif listrik Indonesia dalam dolar AS mencapai US$10.8 kWh.

“Jadi dengan mempertimbangkan faktor kurs dan inflasi, sebenarnya tarif listrik secara real turun sebesar 10%. Jadi artinya tarif yang sekarang itu sebenarnya sudah terlalu murah. Tapi ini yang tidak terlihat langsung oleh masyarakat,” tambah Fabby.

Penurunan tarif listrik bakal membuat PLN makin merugi. Imbas bakal merembet pada rating investasi pemerintah. “Jadi memang pemerintah perlu hati-hati dalam menangani persoalan listrik. Saya mendesak pemerintah dan semua pihak agar menghindari politisasi tarif listrik untuk menjaga iklim investasi di sektor listrik dan energi tetap sehat. Selain itu memberikan peluang ada kompetisi terhadap pilihan energi lain selain batu bara,” pungkas Fabby.

No comments:

Post a Comment