Ideologi, Agama dan Sekularisasi Sebagai Bentuk Interaksi Simbolik - Ide Nasional

Breaking

Friday, April 19, 2019

Ideologi, Agama dan Sekularisasi Sebagai Bentuk Interaksi Simbolik

Dalam konteks sosiologis John Scott (2011) menegaskan bawah konsep pokok Marx mengenai ideologi adalah gagasan mengenai “pembalikan” dan “penyembunyian”. Agama dikatakan menjadi “kesadaran mengenai dunia yang terbalik” karena “manusia menciptakan agama, bukan agama yang membuat manusia”.

Di sisi lain Durkheim meyakini bahwa agama dan yang suci pada hakikatnya bersifat sosial, yakni kepercayaan dan praktik-praktik individu bersifat sekunder. Sehingga bagi Durkheim agama perlu melibatkan kewajiban, oleh karenanya dia bersikeras bahwa agama membutuhkan komunitas moral atau secara singkat agama merupakan “penyembahan masyarakat kepada dirinya sendiri”.

Akan tetapi, Weber lebih memilih berfokus pada pembentukan sosial dan dampak sosial agama atau dengan esensinya. Sehingga menurut Weber setiap agama memiliki pengaruh terhadap jalannya sejarah. Pada sisi lain, konsep tindakan strategis merupakan jalan bagi Erving Goffman untuk membahas lebih luas tentang tindakan.

Erving Goffman sendiri adalah mahasiswa dari Herbert Blumer di Unversitas Chicago pada tahun 1940-an. Oleh karenanya, karya yang dihasilkan oleh Erving Goffman merupakan penyempurnaan dari apa yang telah dijabarkan oleh Herbert Blumer, yakni tentang Interaksionisme Simbolis.

Di mana “diri” adalah konsep yang paling penting dalam teori interaksionisme simbolis ini. Sedangkan dalam karya Goffman, terdapat deskripsi tentang dramaturgikal (frame analysis), manajeman kesan, setting dan peralatan, back-stage, front-stage, serta interaksi face-to-face.

Perdebatan agama dan sekularisasi memang tidak dapat dilihat hanya berdasarkan konsep ideologi, rasionalisasi dan modernitas. Tetapi semuanya itu terlihat lebih nyata ketika teori interaksionisme simbolis Erving Goffman digunakan untuk menganalisa fenomena tersebut. Di mana frame analysis memberikan kerangka dalam kehidupan sosial yang berkaitan dengan konsep ideologi.

Selain itu, interaksi face-to-face juga memperlihatkan bagaimana sekularisasi timbul akibat adanya rasionalisasi yang lebih mengedepankan akal. Dan telah membawa manusia kepada era baru, yakni masyarakat modern.

Terakhir konsep ritual telah memberikan gambaran tentang modernitas yang mana identitas menjadi penting. Meskipun penulis post-modern menganggap manusia telah kehilangan makna dalam kehidupan.

opini

doriapril,religion,ritual

doriapril,religion,ritual


Artikel yang berjudul “Ideologi, Agama dan Sekularisasi Sebagai Bentuk Interaksi Simbolik” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment