Membahas Demokrasi dan Literasi serta Hubungan dengan Nasib Berbangsa! - Ide Nasional

Breaking

Monday, February 18, 2019

Membahas Demokrasi dan Literasi serta Hubungan dengan Nasib Berbangsa!

JIKA INGIN MENGHANCURKAN SEBUAH BANGSA DAN PERADABAN, HANCURKAN BUKU-BUKUNYA; MAKA PASTILAH BANGSA ITU AKAN MUSNAH…!

Buku adalah jendela dunia yang membuka wawasan sebuah bangsa!

Masih ingat kisah Pengepungan Baghdad yang terjadi pada tahun 1258 oleh Pasukan Mongol dimana Mongol membumihanguskan Baghdad serta menghancurkan perpustakaan terbesar di Timur Tengah, yang menyebabkan Daulah Abbasiyah punah karena modal dia untuk bangkit yaitu buku-buku terbaiknya di Perpustakaan Bait al-Hikmah telah dibakar dan dibuang ke sungai yang menyebabkan sungai-sungai berwarna hitam akibat tinta buku tersebut.

Jika pondasi dari Kekhalifahan Abbasiyah adalah buku. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Mengapa peringkat membaca rakyat Indonesia masih di golongan nomor bawah di dunia? Apa yang menyebabkan begitu dropnya literasi publik di negara ini? Dan apakah itu sudah menjadi budaya sejak Indonesia merdeka dulu?

Data Persetanse Budaya Baca Bangsa Indonesia

Fakta Rendahnya Budaya Membaca Masyarakat Indonesia

Salah satu penyebab rendahnya budaya membaca kita adalah karena tidak adanya feedback ketika seseorang membaca. Tidak ada transaksi pemikiran yang terjadi ketika sesorang telah membaca, yang menyebabkan matinya situasi literasi di negara ini. Lalu bagaimana dengan kondisi demokrasi kita? Apakah sama rendahnya seperti budaya membaca kita hari ini? Mari kita sedikit kilas balik ke jaman Soekarno dan Soeharto.

Kalau kita perhatikan, kita pernah bergerak di fase demokrasi yang bebas di jaman Soekarno dan pernah terkekang di jaman Soeharto. Mungkin di jaman Soekarno kekuatan politiknya atau pun kebebasan demokrasinya  belum di dukung kebebasannya oleh kekuatan kapital karena Indonesia baru merdeka.  

Tentu itu berbeda dengan kondisi demokrasi bebas seperti hari ini. Kalau sekarang kita perhatikan, jika ada seseorang yang mengalami penguasaan kapital berarti secara tidak langsung dia memiliki penguasaan power. Lalu kalau memang seperti itu, dimana posisi masyarakat civil society untuk mengeluarkan logika? Jika memang hari ini orang yang berkuasa secara ekonomi atau sering disebut kapital juga secara otomatis memiliki power kekuasaan?

Mungkin kita sedikit
melihat sebuah sistem secara teoritis hasil pemikiran Jurgen Habermas pada
tahun 1984

Teori System dan Life World oleh Habermas

Teori Hubungan System dan Life-World dan Kaitannya Terhadap Kondisi Bangsa Indonesia

Life-World itu artinya dunia yang kita hidupi secara otonom, misalnya LSM kemudian Paguyuban dsb. Sedangkan System adalah koordinasi antara power dan kapital atau state and capital. Jadi kalau logic dari system tumpah kepada life-world tadi secara tidak langsung life-world sudah kehilangan otonom nya. Sekarang kita lihat apakah yang terjadi di negara kita saat ini memang seperti itu? Kolaborasi atau oligarki yang terbentuk antara state and capital sudah menyebabkan life-world menjadi gagu.

Dengan kata lain life-world itu hidup dengan mengolah transaksi ide atau literasi tadi. Karena kultur adalah berisikan ide. Jadi life-world tadi itu adalah identik dengan literasi. Sekarang jika literasinya datang dari negara, maka yang terjadi adalah hegemoni. Kalau literasinya di produksi oleh negara maka yang terjadi adalah mekanisasi/kolonisasi life-world. Karena system tadi prinsipnya adalah mekanis, sedangkan life-world adalah value. Jadi system mengkoloni life-world, yang menyebabkan kritisisme berhenti.

Sekarang kita periksa kembali? Apakah seperti itu yang terjadi di negara ini? Dan bila begitu apa kira-kira yang menyebabkan teori karya Habermas tadi bertahan hingga saat ini? Bukankah teori Habermas tadi tidak sesuai ketika Indonesia berada di jaman awal-awal kemerdekaan dulu? Iya memang benar karena dahulu founding person negara kita dahulu terlatih dalam argumentasi dan terlatih didalam tukar tambah literasi, dan konstitusi kita adalah hasil dari kecerdasan literasi.

Semua yang ikut dalam sidang konstitusi membaca semua khazanah pengetahuan dunia. Waktu debat konstitusi semua tokoh disitu entah cuma lulusan Universitas Leiden atau yang hanya lulusan SMP di Bukittinggi tetap mempunyai akses terhadap literasi.

Jadi semua pendiri Bangsa Indonesia ini adalah intelektual, karena menguasai khazanah pengetahuan dunia, sehingga waktu debat konstitusi seluruh gagasan tumpah di meja debat siang malam tentang satu konsep, yaitu mau diberi nama apakah negara ini? Republik kah? Kerajaan kah? Atau sistem agama kah?

Jadi pernah di dalam sejarah kehidupan negara ini dimana kritik itu tumbuh subur dan produktif, akan tetapi itu semua hilang karena pekerjaan politik. Setelah Soekarno membubarkan partai-partai, lalu orde baru datang dengan teori stabilitas mendahului kesejahteraan, lalu orang mulai berhenti berpikir atau takut berpikir. Kemudian kita tiba di situasi 1984, yaitu dikenal dengan situasi Big Brother is Watching You di dalam novel karya George Orwell, yang mungkin bisa kalian baca sendiri.

Critical Thinking

Dan akhirnya kita mulai dapat semacam keterangan mengapa kita perlu mempelajari critical thinking ulang dengan mengaitkan kondisi sosial hari-hari ini. Kita mungkin bisa membahas metode logika di kelas, akan tetapi jika itu tidak ada kaitannya dengan situasi-situasi sosial. Maka itu semua tidak produktif untuk menghasilkan bibit kesejahteraan sosial.

Oleh karena itu  sangat diperlukan suatu kemampuan bernalar secara koheren, dan kemampuan untuk melihat problem agar menghasilkan kritik dengan memanfaatkan fasilitas koherensi itu tadi. Supaya daya kohesi antara demokrasi dan literasi tadi bisa menghasilkan kesejahteraan publik. Terima kasih.

edukasi

bangsa,edukasi,indonesia,politik

bangsa,edukasi,indonesia,politik


Artikel yang berjudul “Membahas Demokrasi dan Literasi serta Hubungan dengan Nasib Berbangsa!” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment